Beberapa hari terakhir ini kita diramaikan oleh isu potensi pencemaran lingkungan yang terjadi di Kepulauan Raja Ampat yang disebabkan oleh aktivitas penambangan nikel oleh beberapa Perusahaan. Hal ini sekaligus mengingatkan kita akan perlunya kesadaran untuk menjaga lingkungan terutama lingkungan laut.
Kabupaten Brebes adalah salah satu
Kabupaten yang berada di wilayah pesisir pantai utara Jawa dengan memiliki
garis pantai 73 Km yang terdiri dari 5 Kecamatan yang dimana wilayah ini
memiliki potensi vegetasi mangrove yang sangat penting sebagai penyangga
lingkungan dengan berperan sebagai pencegah abrasi, penahan gelombang pasang,
menciptakan mikrohabitat bagi berbagai biota laut, dan sebagai penyerap dan
penyimpan karbon biru (blue carbon).
Beberapa tahun terakhir ini kita dapat
melihat langsung perkembangan industri di Kabupaten Brebes sangat pesat, hal
ini dapat kita lihat dengan ramainya kendaraan para pekerja yang melaju di
sepanjang jalur pantura saat pagi atau sore hari. Kabupaten Brebes memang
menjadi primadona sebagai daerah relokasi industri yang sebelumnya berada di
wilayah Jabodetabek (Tangerang, Bekasi, Cikarang) terutama untuk industri padat
karya seperti pabrik sepatu. Ekspansi ke wilayah Brebes ini disebabkan beberapa
hal antara lain murahnya atau rendahnya Upah Minimum Kabupaten (UMK) tenaga kerja di Kabupaten Brebes, selain itu
juga dukungan pemerintah Daerah yang menyiapkan lahan sebagai Kawasan Industri
Industri sekitar 90.00 Hektare (dikutip dari laman
ppid.dpmptsp.jatengprov.go.id).
Selama tahun 2024 Kabupaten Brebes
mampu menumbuhkan perekonomian positif sebesar 5,02% yang salah satu
kontribusinya dari industri-industri baru ini. Hal ini tentunya suatu
pencapaian yang baik bagi Kabupaten Brebes, namun perlu menjadi pertimbangan
juga terkait dengan dampak lingkungan yang dapat ditimbulkan oleh
Industri-Industri yang ada ini. Dampak yang ditimbulkan ini dapat berupa
produksi limbah, pencemaran lingkungan perairan, dan polusi udara oleh emisi
karbon, baik yang dihasilkan dari operasional pabrik atau peningkatan jumlah
kendaraan.
Kondisi ini menjadikan peran keberadaan
kawasan pesisir dengan vegetasi mangrove menjadi sangat penting dalam hal
mengurangi dampak pencemaran lingkungan terutama dalam hal pencemaran udara
oleh aktivitas pabrik dan banyaknya kendaraan. Mangrove, secara khusus,
memiliki kemampuan menyerap karbon hingga lima kali lebih besar dari hutan
daratan. Karbon ini disimpan tidak hanya di biomassa pohonnya, tetapi juga di
tanah mangrove yang padat dan tergenang air, sehingga mampu menyimpan karbon
dalam jangka waktu sangat lama.
Sejauh ini telah banyak upaya yang
dilakukan oleh Kabupaten Brebes dalam pelestarian mangrove, banyak
kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik yang diinisiasi oleh ‘Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, TNI AL ataupun dari organisasi relawan, serta kelompok
Masyarakat. Kita bisa melihat misalnya kegiatan penanaman mangrove yang
diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup di Pulau Cemara, LANAL Tegal
melakukan penanaman di Pantai Randusanga, bahkan baru-baru ini Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah memiliki program yang dinamai dengan “Mageri Segoro”
dengan melakukan penanaman Mangrove di 17 titik sepanjang pesisir Utara Jawa
Tengah salah satunya di Brebes. Namun banyaknya kegiatan dan program seperti
ini belum cukup untuk mewujudkan kelestarian mangrove, tetapi perlu didukung
juga oleh langkah-langkah strategis lainnya seperti pengawasan dan perlindungan
melalui penetapan zonasi perlindungan mangrove secara tegas dalam rencana tata
ruang wilayah (RTRW). Sementara itu, pelaku industri pun harus dilibatkan dalam
skema tanggung jawab lingkungan melalui program rehabilitasi dan pelestarian
mangrove. Edukasi kepada masyarakat pun tak kalah penting, agar muncul
kesadaran kolektif bahwa mangrove bukanlah hutan yang bisa ditebang seenaknya,
melainkan tabungan karbon masa depan.
Kabupaten Brebes memiliki peluang besar
untuk menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan bisa
berjalan beriringan. Dengan mempertahankan dan merehabilitasi mangrove, Brebes
tidak hanya menjaga ekosistem lokalnya, tetapi juga turut berkontribusi dalam
upaya global melawan krisis iklim. Inilah saatnya kita melihat mangrove Lestari
dan pembangunan berjalan seiring disertai dengan udara yang sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar